PK IPNU IPPNU UIN Walisongo - Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Senin, 12 Rabiul Awal, menjadi momen istimewa yang diwarnai berbagai fenomena luar biasa di berbagai belahan dunia.
Peristiwa mengagumkan tersebut mengiringi kedatangan Rasulullah SAW sebagai pertanda keagungan beliau bagi seluruh alam semesta.
Berbagai tanda besar muncul menjelang detik-detik kelahiran manusia paling mulia tersebut, salah satunya adalah padamnya api suci penyembahan kaum Majusi di Persia yang telah menyala tanpa henti selama ribuan tahun.
Pada saat yang sama, guncangan hebat juga meruntuhkan 14 bangunan di kompleks Istana Kekaisaran Persia sebagai tanda berakhirnya era kezaliman.
Kondisi alam di tanah Makkah yang semula gersang dan tandus pun mendadak berubah menjadi subur usai diguyur hujan. Pepohonan kembali rimbun memanjakan mata, sementara berbagai makhluk hidup seperti burung dan ikan seakan ikut bersukacita menyambut kehadiran beliau ke dunia.
Seluruh rentetan peristiwa ajaib ini menjadi bukti nyata betapa agungnya kenabian Rasulullah SAW sejak awal kedatangannya.
Sudah sepatutnya umat Islam menyambut momen bersejarah ini dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur'an sebagai wujud terima kasih kepada Allah SWT.
Anjuran Bergembira Menyambut Maulid
Sejarah dan Makna Perayaan Maulid
Di Indonesia, perayaan Maulid diisi dengan beragam kegiatan seperti pembacaan kitab Barzanji, pengajian, hingga perlombaan tilawah Al-Qur'an dan selawat.
Tradisi ini menjadi wadah syiar untuk mengingat kembali perjalanan hidup manusia paling sempurna yang membawa risalah Allah SWT ke muka bumi.
Restu tersebut pernah terbukti saat sahabat Ka'ab bin Zuhair melantunkan syair pujian di hadapan Rasulullah SAW. Alih-alih melarang, Nabi Muhammad SAW justru menghadiahi Ka'ab sebuah selimut bergaris (Burdah).
Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi cikal bakal istilah Qasidah Burdah, yang kain aslinya kini tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.
Ragam Tradisi Maulid di Indonesia
- Buat Ketupat Sampang (Madura)
Masyarakat membuat ketupat dari anyaman daun kelapa, disajikan pada momen-momen besar keagamaan termasuk Maulid Nabi.
- Grebeg Maulud (Yogyakarta dan Surakarta)
Iring-iringan masyarakat mengikuti Sultan beserta pembesar keraton menuju masjid untuk merayakan Maulid, lengkap dengan serangkaian prosesi sebelum mencapai puncak acara.
- Masak Kuah Beulangong (Aceh)
Masyarakat Aceh memiliki tradisi memasak kuah beulangong secara gotong royong. Hidangan berbahan dasar daging tersebut dimasak dalam jumlah besar untuk kemudian dinikmati bersama. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid, tetapi juga memperkuat kebersamaan antarwarga.
- Baayun Maulid (Banjar)
Mengayun bayi sebagai simbol rasa syukur atas kelahiran Rasulullah, sesuai makna kata "baayun" yang berarti mengayun atau membuai.
- Baca Kitab Al-Barzanji
Pembacaan kitab Al-Barzanji menjadi salah satu tradisi Maulid yang umum kita temukan di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan biasanya diisi dengan pembacaan kisah kehidupan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW, shalawat, tausiyah, serta doa bersama.
Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, semoga cahaya kelahirannya terus menerangi langkah kita, khususnya keluarga besar IPNU IPPNU UIN Walisongo dalam berjuang dan berkhidmah.
Editor: Muhammad Ikhsan

0 Komentar